Pernah merasa perjalanan pulang terasa lebih cepat dibandingkan perjalanan saat berangkat, padahal rute dan jaraknya sama? Fenomena ini cukup sering dirasakan ketika seseorang bepergian untuk liburan, mudik, mengunjungi keluarga, atau melakukan perjalanan ke tempat yang belum pernah didatangi.
Secara nyata, waktu tempuh kendaraan tentu tidak otomatis menjadi lebih singkat hanya karena perjalanan berlangsung menuju rumah. Jika perjalanan berangkat membutuhkan tiga jam, perjalanan pulang dengan kondisi jalan yang sama juga membutuhkan waktu yang kurang lebih serupa.
Namun, pengalaman subjektif terhadap waktu bisa berbeda. Otak manusia tidak selalu merasakan perjalanan berdasarkan hitungan jam dan menit. Perhatian, pengalaman baru, rasa familiar, serta kondisi selama perjalanan dapat memengaruhi bagaimana seseorang mengingat durasi perjalanan.
Saat Berangkat, Banyak Hal Terasa Baru
Perjalanan menuju sebuah destinasi biasanya membawa lebih banyak informasi baru.
Kita mungkin memperhatikan jalan yang dilewati, melihat pemandangan, mencari lokasi tujuan, membaca petunjuk arah, atau memikirkan aktivitas yang akan dilakukan setelah tiba.
Semua hal tersebut membuat perhatian lebih banyak tertuju pada perjalanan.
Ketika perhatian terus berpindah dari satu hal ke hal lain, perjalanan bisa terasa panjang. Kita lebih sadar bahwa waktu sedang berjalan.
Situasinya berbeda ketika perjalanan pulang dimulai.
Perjalanan Pulang Sudah Terasa Familiar
Saat kembali dari sebuah tempat, kita sudah memiliki gambaran mengenai rute yang akan dilewati.
Kita mungkin sudah tahu kapan akan melewati jalan tertentu, kapan harus berbelok, atau pemandangan apa yang akan muncul.
Rasa familiar tersebut membuat perjalanan terasa lebih mudah diprediksi. Otak tidak perlu memberikan perhatian sebesar ketika menghadapi lingkungan yang benar-benar baru.
Akibatnya, perjalanan pulang dapat terasa lebih singkat meskipun durasi sebenarnya hampir sama.
Pengalaman Baru Membuat Perjalanan Berangkat Terasa Lebih Panjang
Ada faktor lain yang berkaitan dengan cara otak memproses pengalaman baru.
Ketika seseorang berada di tempat yang belum dikenal, banyak informasi masuk ke dalam perhatian. Pemandangan, suara, bangunan, orang, hingga situasi lalu lintas dapat menjadi hal yang menarik untuk diamati.
Semakin banyak pengalaman baru yang kita perhatikan, semakin banyak pula informasi yang tersimpan sebagai bagian dari perjalanan.
Karena itu, ketika mengingat kembali perjalanan tersebut, perjalanan berangkat dapat terasa lebih panjang dan lebih penuh peristiwa.
Saat Pulang, Kita Sudah Mengetahui Apa yang Akan Terjadi
Perjalanan pulang biasanya memiliki tingkat ketidakpastian yang lebih rendah.
Kita sudah tahu tujuan akhirnya. Kita juga sudah melewati sebagian besar rute sebelumnya.
Kondisi tersebut dapat membuat perjalanan terasa lebih santai. Seseorang mungkin memilih melihat pemandangan, mendengarkan musik, berbicara dengan teman, tidur, atau sekadar menikmati perjalanan tanpa terlalu memikirkan waktu.
Ketika perhatian tidak tertuju pada durasi perjalanan, waktu dapat terasa berlalu lebih cepat.
Menunggu Perjalanan Juga Memengaruhi Persepsi Waktu
Perasaan terhadap waktu tidak hanya muncul selama kendaraan bergerak. Ekspektasi sebelum berangkat juga dapat memengaruhinya.
Saat pergi berlibur, seseorang biasanya sudah menunggu-nunggu perjalanan tersebut. Ada rasa penasaran terhadap destinasi dan rencana yang ingin dilakukan.
Karena perjalanan menjadi bagian dari sesuatu yang dinantikan, seseorang bisa lebih sadar terhadap setiap tahapnya.
Sebaliknya, perjalanan pulang menandai berakhirnya aktivitas utama. Tidak ada lagi rasa penasaran sebesar saat berangkat.
Perhatian pun lebih mudah beralih dari perjalanan menuju hal lain yang akan dilakukan setelah sampai.
Perjalanan yang Sama Bisa Terasa Berbeda bagi Setiap Orang
Tidak semua orang mengalami fenomena ini dengan tingkat yang sama.
Pengalaman perjalanan sangat bergantung pada kondisi masing-masing. Orang yang menikmati perjalanan dengan santai mungkin tidak terlalu memperhatikan waktu.
Sebaliknya, seseorang yang terburu-buru atau merasa tidak nyaman dapat merasakan perjalanan jauh lebih lama.
Kemacetan, cuaca, kondisi kendaraan, rasa lelah, dan situasi di dalam kendaraan juga dapat mengubah pengalaman terhadap waktu.
Jadi, rasa bahwa perjalanan pulang lebih cepat bukan berarti otak semua orang bekerja dengan cara yang sama dalam setiap situasi.
Mengapa Pengalaman Ini Tidak Hanya Terjadi Saat Traveling?
Fenomena serupa juga dapat muncul dalam berbagai aktivitas sehari-hari.
Misalnya, perjalanan menuju tempat kerja yang baru bisa terasa lama karena seseorang masih mempelajari rute. Setelah beberapa minggu melewati jalur yang sama, perjalanan tersebut mungkin terasa lebih singkat.
Hal yang sama dapat terjadi ketika seseorang pergi ke sebuah acara untuk pertama kali. Saat pulang, rute dan lingkungan sudah lebih familiar sehingga perjalanan terasa lebih mudah.
Artinya, pengalaman tersebut tidak hanya berkaitan dengan liburan. Familiaritas dan perhatian juga berperan dalam pengalaman seseorang terhadap waktu.
Perjalanan Pulang Bisa Terasa Cepat karena Kita Tidak Lagi Mengejar Destinasi
Saat berangkat, destinasi menjadi tujuan utama. Kita ingin segera sampai karena aktivitas menarik menunggu di depan.
Perasaan tersebut dapat membuat seseorang lebih sadar terhadap waktu tempuh.
Perubahan fokus tersebut dapat membuat perjalanan terasa lebih singkat.
Cara Kita Mengingat Perjalanan Juga Berpengaruh
Ada perbedaan antara merasakan waktu saat perjalanan berlangsung dan mengingat durasi perjalanan setelah semuanya selesai.
Ketika sedang berada di perjalanan, perhatian menentukan apakah waktu terasa lambat atau cepat. Setelah perjalanan berakhir, otak mengingat berbagai kejadian yang terjadi selama perjalanan.
Perjalanan yang penuh pengalaman baru dapat meninggalkan banyak memori. Karena itu, ketika mengingatnya kembali, perjalanan tersebut bisa terasa lebih panjang.
Sebaliknya, perjalanan pulang yang terasa lebih monoton mungkin meninggalkan lebih sedikit detail dalam ingatan. Saat mengingatnya, kita merasa perjalanan tersebut berlangsung sangat cepat.
Tidak Berarti Perjalanan Pulang Selalu Lebih Singkat
Penting untuk membedakan antara waktu tempuh sebenarnya dan perasaan terhadap waktu.
Jika jalan pulang mengalami kemacetan, kendaraan berhenti, atau terjadi gangguan perjalanan, tentu waktu tempuh bisa lebih lama.
Fenomena ini hanya menjelaskan mengapa perjalanan pulang terkadang terasa lebih cepat secara subjektif. Jam tetap menghitung waktu dengan cara yang sama, tetapi pengalaman manusia terhadap waktu dapat berubah.
Jadi, ketika perjalanan pulang tiga jam terasa seperti baru berlangsung satu atau dua jam, bukan berarti waktu benar-benar berjalan lebih cepat.
Perjalanan Pulang Membawa Pengalaman yang Berbeda
Perhatian, familiaritas, ekspektasi, pengalaman baru, dan cara kita mengingat sebuah perjalanan ikut membentuk persepsi terhadap waktu.
Itulah sebabnya rute yang sama dapat terasa berbeda ketika dilalui untuk kedua kalinya.
Saat berangkat, kita mungkin sibuk mencari tahu apa yang ada di depan. Saat pulang, kita sudah mengenal sebagian besar perjalanan tersebut.
Baca juga: Menikmati Kebebasan dalam Solo Travel ke Tempat Wisata Alam
